Review Mudik Pakai Angkutan Umum… Sengsara…

image

Suasana di pintu masuk Stasiun Solo Balapan, penuh sesak

Oye… Selamat pagi pemirsa. Setelah postingan pembuka yang tidak jelas tadi, kali ini ijinkan saya untung bercerita pengalaman mudik saya dengan menggunakan angkutan umum yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu.

FYI saya memang sudah sering mudik ke Purworejo dengan memanfaatkan angkutan umum, tapi mudik kali ini adalah mudik yang paling sengsara yang saya rasakan selain saat mudik lebaran tentunya. Kalau mudik lebaran saya bisa memaklumi karena saat itu semua orang ingin pulang.

Kemarin saya mudik hari Minggu tanggal 15 Maret 2015.

image

Tiket KA Madiun Jaya yang akhirnya saya dapatkan

Saya berangkat dari Karanganyar sekitar jam 13.00 an ke stasiun Solo Balapan. Saat itu incaran saya KA Prameks jam 14.25 tujuan STA Kutoarjo. Ternyata sampai stasiun tiket KA Prameks yang akan saya tumpangi sudah habis terjual. Ternyatanya, penjualan tiket sudah dibuka 3 jam sebelum jadwal keberangkatan kereta. Pantes saja pas saya sampai 1 jam sebelum keberangkatsn susah ludes. Stasiun Balapan saat itu memang terlihat sangat ramai. Entah ini ada apa… biasanya di hari minggu keramaian akan terjadi di pagi hari (setahu saya).

Akhirnya yang bisa saya dapatkan itu tiket KA Manja yang akan berangkat jam 16.10 dan hanya sampai Jogja. Dan ini kereta lokal terakhir yang ada.

Tadinya saya pikir tak apalah naik kereta ini, nanti bisa sambung kereta prameks lagi dari Jogja ke Kutoarjo. Ternyata pwmikiran saya mentah pemirsa!! Kereta prameks yang ke Kutoarjo sudah tidak ada lagi.

Saya turun di STA Tugu sekitar kurang lebih jam 18.00. Nah abis itu bingung harus gimana. Dalam pikiran saya, saya harus segera ke Pasar Gamping untuk mencegat bus ke Kutoarjo. Hanya itu solusinya agar bisa sampai rumah, bus!!

Saya bertanya ke tukang ojek di depan STA Tugu. Tarif ke pasar Gamping 30.000. Saya coba menawar 15.000 ternyata mentah!! Saya coba jalan ke arah luar stasiun bermaksud mencari ojek yang lain. Sial… di sini malah gak ada ojek. Yang ada taksi dan becak bermotor. Pikir saya taksi pasti mahal, sedangkan bentor… saya kasihan sama tukangnya soale STA Tugu – pasar Gamping itu jauh.

Saya ingat… ada bus kota nomor 13 yang lewat depan Kantor Pos Besar dan melewati pasar Gamping.

Pemirsa, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki dari STA Tugu ke depan Kantor Pos Besar, lewat jalan Malioboro. Ini bukan jarak yang pendek. Saya berjalan sendiri lewat jalan Malioboro yang ramai sesak (hari minggu). Saya kepikiran mau selfie di depan mall Malioboro sebagai bukti tapi kamera hape tidak mendukung karena kurangnya cahaya.

Dengan bermandikan keringat akhirnya saya sampai juga di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Di sana ada 2 becak motor yang menunggu penumpang. Saya coba menanyakan keberadaan bus kota yang lewat Pasar Gamping, kata bapak tukang becaknya “jam segini sudah tidak ada bus”.

Benar saja… setelah saya menunggu beberapa menit memang sudah tidak ada tanda tanda kemunculan bus kota, yang lewat hanya bus pariwisata. Hingga akhirnya bapak tukang bentornya menawarkan jasa untuk mengamtarkan saya ke Gamping.

Dibuka harga 25.000 yang akhirnya deal diangka 20.000, maka diantarlah saya dari Kantor Pos Besar ke Pasar Gamping.

Ternyata jaraknya memang sangat jauh. Malah dalam perjalanan saya sempat merasa kasihan sama bapak bentornya. Saya rasa tarif 20.000 terlalu murah untuk jarak sejauh ini.

Jam 19.00 tepat bentor yang mengantar saya sampai juga di depan Pasar Gamping. Hore di sana sudah stanby bus ke Kutoarjo.

Dari penampilannya bus ini sudah sangat jelek, tapi saya takut sudah tidak ada bus yang lewat lagi. Akhirnya saya naik juga dan bus juga segera berjalan. Tarif Yogyakarta – Kutoarjo Rp. 20.000.

Benar juga prediksi saya sebelumnya. Sepanjang jalan bus MULYO yang saya naiki ini terdengar full musik dengan alunan KACA BERGETAR. -asem-

Setelah saya perhatikan, lapisan karet yang melapisi body bus dengan kaca semuanya sudah tidak ada. Lapisan busa busa interior bus juga sudah tidak ada. Body bus tinggal besi dan kaca!!! ūüėĮ ditambah kombinasi jalan agak rusak dan sok breaker keras. -ediiiiaaaaaannnn-

Tapi yang saya heran, laju bus cukup kencang. Mesinnya masih bisa diandalkan. Tapi ya itu… kuping cekot cekot!!

Gamping – Purworejo hanya dalam 1 jam-an. Biasanya normalnya lebihlah.

Iya saya dioper ke bus lain yang sudah menunggu di depan Terminal Purworejo. Kalau malam hari biasanya memang gini, agar penumpang yang sedikit jadi ringkas.

Sampai Kutoarjo jam setengah sembilanan. Sambil menunggu jemputan saya banyak digodain tukang ojek. Dan jam 21.00 an akhirnya saya sampai rumah.

Mudik sengsara ini menghabiskan biaya Rp. 60.000 dengan rincian
– kereta AC Rp 20.000
– becak motor Rp 20.000
– bus full musik Rp 20.000

Semua tarifnya bisa kembar… dengan moda transportasi umum yang berbeda (bahkan jumlah rodanya juga beda) dan jarak yang berbeda.

kontak MASE
Pin BB : 761c47be
Email : motorsport150@gmail.com

Posted from WordPress for Android

26 Comments

  1. Weeh njenengan purworejo tho mase? Cerak omah hehe
    Tp pancen bener, bus kota jogja nomor2 trtrntu kadang udah abis kalo maghrib, trus bis akap contoh MULYO, RAHARJA, AMAN, Sumber alam, dll kbanyakan udah jelek kondisinya.. (Kelingan jaman kuliah mas)

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*