27 Mei, 9 Tahun Lalu

Gegara gue melihat DP BBM temen gue yang ini…
wpid-img_20150527_104248.jpg

Pikiran gue seketika seperti ditarik kembali ke waktu yang tertulis di DP tersebut.Iya, dalam memori gue, kejadian di tanggal tersebut seperti baru kemarin saja terjadi, masih membekas jelas.

27 Mei 2006 di Jogja

Gue yang masih tinggal di Jogja saat itu sedang tertidur lelap di atas kasur yang tergelar di lantai, di dalam kamar kost berukuran kecil 2×2,5 m. Mungkin ukuran ini lebih kecil dari ukuran kamar mandi Anda. Gue tiba-tiba terbangun karena kaget.Kasur yang gue tiduri tiba-tiba bergoyang hebat. Bukan..bukan karena goyang dribel. Gue masih belum paham apa yang terjadi. Mata gue menatap ke galon air mineral di atas dispenser yang ternyata juga bergoyang hebat. Di sini gue yang baru terbangun baru ngeh… INI GEMPA!!!!!

Seketika itu gue membuka pintu kamar yang gue kunci, rasanya susah banget. Setelah berhasil gue langsung berlari ke lantai bawah ke jalan di depan kost diiringi oleh suara-suara genting yang berjatuhan ke tanah. Malah teman gue sempat kepleset ditangga saat turun karena saking paniknya.

Ternyata di jalan di depan kost kondisinya sudah ramai. Sudah banyak orang-orang yang keluar dari rumahnya untuk menyelamatkan diri.Suasana diluar tak kalah menakutkannya, suara genteng berjatuhan masih ada, terus disusul suara tembok pagar yang ambruk, dan yang paling menyayat suara tangisan cewek-cewek yang ngekost di sekitaran kostan gue.Iya kami semua berkumpul di jalan, dan para cewek itu menangis.

Pagi itu, Jogja diguncang gempa berkekuatan 5,9 skala Richter. Bahkan United States Geological Survey melaporkan bahwa gempa saat itu berkekuatan 6,2 skala Richter. Berlangsung selama 57 detik.

Saat dalam kecemasan tersebut kami mengira-ira jika gempa yang kami rasakan begitu besarnya ini bersumber dari Gunung Merapi disebelah utara Jogja.Tapi sebagian orang berpendapat gempa berasal dari laut di daerah Parangtritis.

Beberapa saat kemudian disaat gue dan orang-orang masih dalam kecemasan, tersebar isu telah terjadi tsunami yang berasal dari laut selatan dan mengarah ke Kota Jogja.Beberapa orang dan beberapa teman gue panik dan ikut berlari ke arah utara mencari tempat berlindung yang aman dari tsunami.

Gue bersama beberapa orang lain tetep stay di depan kost dan mencoba menenangkan diri. Dalam pikiran gue, misal terjadi tsunami pasti tidak akan sampai ke Kota (tempat gue kost). Gue ingat banget, parangtritis itu disebelah utaranya ada perbukitan. Seandainya terjadi tsunami perbukitan itu pasti setidaknya akan mengurangi dampaknya. Pikiran Itulah yang membuat gue tidak ikut berlari ke utara menyelamatkan diri dari tsunami.Benar saja (alhamdulillah) tsunami hanyalah isu.

Setelah gempa susulan tidak terjadi lagi gue mencoba naik ke atas melihat kondisi kamar gue.Semuanya berantakan.Atap terbuka karena gentengnya pada jatuh, kamar berserakan isinya termasuk monitor yang juga terjatuh dari atas meja, syukurlah setelah gue cek monitor itu tidak pecah.

Gue dan orang-orang akhirnya ada waktu untuk mengisi perut setelah tenda didirikan oleh beberapa penduduk dan beberapa ibu-ibu bisa memasak di dekat tenda tersebut.walau hanya memakan mie rebus itu sudah suatu nikmat bagi kami semua. Dan alhamdulillah kami semua selamat.Tapi setelah dilakukan pengecekan, ada satu warga kampung disekitar kost gue yang ternyata meninggal, terkena jatuhan bangunan rumahnya.

Setelah kenyang dan membungkus beberapa barang di kamar dengan plastik agar tidak terkena air saat hujan, gue memutuskan untuk pulang ke Purworejo. Gue pengen tahu kondisi orang tua gue di sana, maklum karena gempa itu semua saluran telepon terputus dan HP tidak dapat digunakan beberapa saat.

Gue kaget pas isi bensin eceran.Bensin ecerannya dijual 10.000 perliter.Tetep gue beli soalnya gue pengen pulang.Dan sore itu gue pulang dengan menaiki Supra Fit R lansiran 2007.Sepanjang jalan yang ada hanyalah kemacetan.Semuanya seperti ingin keluar dari Jogja.Jalan ke arah barat padat merayap, berbanding terbalik dengan jalan yang mengarah ke arah timur (Jogja).Alhamdulillah gue selamat sampai rumah dan kondisi dirumah tidak separah di Jogja, bahkan genteng jatuh pun tidak ada.

Keesokan harinya gue datang lagi ke Jogja, berniat nengokin kost sambil membawa sekardus Indomie buat dibagi ke warga.Alhamdulillah warga malah sudah berani masuk ke rumah semua dan membongkar tendanya. Ya wes Indomie yang gue bawa gue kasihkan ke ibu kost saja, dan sore harinya gue pulang ke Purworejo lagi. Eh iya sebelum pulang gue sempat menengok kampus gue Universitas Ahmad Dahlan 3 yang baru selesai dibangun dan siap untuk digunakan. Gentengnya pada jatuh dari lantai tiga dan sebagian temboknya ada yang retak-retak. Setelah dilakukan pengecekan oleh tim dari UGM, alhamdulillah kampus gue tersebut masih layak untuk digunakan, tidak perlu dibongkar ulang dan dibangun lagi.

Sekian gan cerita gue pengalaman berhadapan dengan gempa berkekuatan 5,9 skala Richter. Alhamdulillah masih diberikan keselamatan oleh Allah SWT dan Jogja dengan cepat dapat bangkit kembali.

12 Komentar

    • Woh luput kang… hahaha… sing bener Astrea 800… itu 1 liter ditambah sisa kmrn dikit bs smp rumah…
      Ternyata cuma sampean yang mbaca isinya bukan hanya judul.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*