Adat dan Budaya: Dundunan (Turun Tanah) Nada Fajria Salsabila

image

^ saya dan anak saya di kampung halaman kemarin

Di Jawa, khususnya di desa saya Kalimeneng, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah (semoga ada di peta), adat budaya masih dijunjung tinggi, terutama oleh para mbah-mbah maupun buyut. Salah satu adat budaya yang baru-baru ini kami selenggarakan adalah “dundunan” atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kata “turun tanah”.

Biasanya adat budaya ini diselenggarakan kala seorang anak sudah memasuki usia 7 bulan, tapi kemarin terlambat, Nada sudah memasuki usia 9 bulan. Maklum saja, anak saya Nada baru diusia 9 bulan ini bisa mudik. Sedangkan di Karanganyar (tempat mertua) adat budaya demikian tidaklah ada.

Ya wes tak ada salahnya… bukankah ada pepatah Belanda yang mengatakan “lebih baik telat daripada datang bulan”. #eh

Malam itu…
Buyut (atau mbah putri saya), masak semalaman dibantu oleh seorang tetangga. Bahkan pas saya mapan tidur, mereka berdua masih berjibaku dengan bumbu, ayam, ketan, dan rempah-rempah lain yang ada di dapur untuk menyiapkan acara di keesokan paginya.

Paginya…
Pukul 0600 semua harus di bawa ke depan rumah. Ketan putih dan merah, tangga, kembang setaman, tebu, dan aksesoris seperti gunting, sisir, handphone, pulpen, penggaris, jam tangan, gelang, kalung, uang… semua disiapkan ditaruh di atas ketan yang telah ditutup terlebih dahulu dengan kain.

image

^ di bawah kain hijau itu ada ketan putih dan merah

Setelah semua siap…
Selanjutnya tugas saya adalah menggendong anak saya Nada, dan ritual dimulai…

– Pertama adalah, Nada saya gendong sambil digerakkan seperti orang naik tangga ditangga yang telah disiapkan.

image

^ Nada naik tangga

– Kedua, Nada harus didudukkan di atas ketan yang telah dilengkapi dengan berbagai aksesoris. Lalu sebuah kurungan ayam dari bambu digunakan untuk mengurung Nada. Lalu biarkan Nada mengambil beberapa aksesories.

image

^ Nada ditutup pake kurungan ayam

Kemarin itu aksesoris yang Nada ambil ada 3. Uang, sisir, dan kalung. Setiap aksesoris yang diambil dipercaya memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan masa depan Nada kelak. Entahlah… boleh percaya boleh tidak, namanya juga adat dan budaya. Ambil sisi positifnya saja.

Jika flashback beberapa tahun kr belakang, dulu katanya jaman dundunan saya, barang yang saya ambil itu jam tangan. Dan akhirnya saya memang hobi koleksi jam tangan, murah.

Nah… ritual diakhiri dengan memandikan Nada menggunakan air yang dicampur dengan kembang tadi. Tapi ini nggak saya lakukan. #ssstttt jangan bilang2 buyut

image

Tentu saja adat dan budaya yang telah turun temurun ini sarat akan makna. Tapi jangan tanyakan ke saya, asli gan saya nggak paham akan penggunaan properti-properti tersebut. Yang penting dilestarikanlah. (Mase)

Salam satu aspal

Diketik dan dipublikasikan melalui Andromax E860

10 Comments

  1. dulu waktu kecil mungkin aku nyari kunci ring pas kali yaa… ehhh satu lagi.. foto paling atas biji nya ke gencot tu kang…. wkwkkwkwkw jesss…… cling

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*