Testimoni Warga Purworejo Saat Berkunjung ke Keraton Agung Sejagat

satuaspal – Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh… Ketemu lagi dengan satuaspal mas bro dan mbak sist… Mas bro dan mbak sist pasti masih ingat tentang Keraton Agung Sejagat. Beritanya sampai menggegerkan jagat dan diliput langsung oleh stasiun televisi dengan menerjunkan tim jurnalis ke lokasi. So… televisi pun akhirnya isinya tentang Keraton Agung Sejagat semua. Apa yang nonton nggak bosen? Nyatanya enggak tuh mas bro dan mbak sist. Masyarakat sangat penasaran akan informasi tentang kerajaan Keraton Agung Sejagat ini.

Kerajaan Keraton Agung Sejagat diikrarkan oleh sang raja yang bergelar Sinuhun yang memiliki nama asli Toto Santoso dan memiliki pasangan bergelar Ratu Diah Gintarja yang memiliki nama asli Fanni Amiandia. Keduanya mendirikan Keraton Agung Sejagat yang berlokasi di Desa Pogung, Purworejo. Raja mengklaim telah memiliki sekitar 400-an orang pengikut. Karena dinilai meresahkan dan ada unsur penipuan, per hari Selasa tanggal 14 Januari 2020, akhirnya polisi melakukan penangkapan kepada raja dan ratu Keraton Agung Sejagat, serta pengikut-pengikutnya.

Buntut dari penangkapan tersebut, kini bangunan yang disebut sebagai Keraton Agung Sejagat telah diberi garis polisi. Dan karena saking membuat penasarannya, tempat tersebut kini menjadi lokasi wisata dadakan. Lokasi Keraton Agung Sejagat kini dikunjungi oleh baik warga Purworejo sendiri maupun warga dari luar daerah. Mereka penasaran dan ingin melihat langsung keberadaan Keraton Agung Sejagat yang menggegerkan jagat tersebut.

Via Mbak Tri Estiningsih, satuaspal mendapatkan testimoni gambaran langsung kondisi Keraton Agung Sejagat saat ini, pasca digerebek oleh kepolisian. Lokasi Keraton Agung Sejagat kini menjadi lokasi wisata dadakan yang didatangi oleh warga sekitar maupun warga dari luar Purworejo. Dan berikut gambaran kondisi terkini dari Keraton Agung Sejagat di Purworejo tersebut.

Hari Ahad (19/1 red) kemarin.. Habis kondangan lanjut ke Keraton Agung Sejagad. Awalnya bingung nyari lokasinya, tetapi ternyata dari jembatan krandegan sudah ada penunjuk arahnya. K E R A T O N. Begitu yang tertulis di selembar kertas yang tertempel di sebuah tiang bambu, dengan 2 orang Bapak-bapak petugas parkir.

Ternyata masih lumayan jauh, kira-kira 1,5 km ke arah selatan. Semakin mendekati lokasi “keraton” Semakin banyak penunjuk lokasinya. Keraton.. Keraton.. Begitu tulisannya.

Tampak mobil-mobil terpakir panjang dan mengular . Sepeda motor pun tak kalah banyaknya. Banyak halaman rumah penduduk sekitar mendadak menjadi lahan parkir. Banyak juga yang kamar mandinya berubah menjadi kamar mandi umum dengan tarif dua ribu rupiah.

Warga sekitar banyak yang mendadak jadi ‘bakul’. Ada yang jualan pecel, es dan lainnya. Pedagang yang datang pun tak kalah banyaknya. Ramai seperti pasar malam. Pengunjungnya pun tak kalah banyaknya. Tidak hanya warga Purworejo. Banyak juga yang datang dari luar kota.

Salah satu yang membuat seru adalah saat melewati jembatan gantung. Agak ngeri-ngeri gimana gitu. Karena banyak yang lewat diatas jembatan, takutnya jembatan putus dan tercebur di sungai yang lumayan dalam.

Tapi Alhamdulillah ada Bapak-bapak Hansip yang bertugas mengatur perjalanan diatas jembatan gantung tersebut. Sehingga bisa dikondisikan dengan baik.

Sampai di keraton ternyata hanya seperti itu saja. Sebuah bangunan yang dikelilingi pagar batako yang belum selesai pembagunannya. Para pengunjung tidak boleh memasuki lokasi, karena sudah diberi garis polisi, dan di dalam juga ada Bapak-bapak Polisi yang berjaga.

Ada ibu-ibu yang bilang seperti ini “Keraton Agung Sejagad nggawe wong geger sak jagad”. Bener Bu. Dan membuat saya jadi sampai ke desa Pogung karena cuma penasaran sama keraton-keratonan itu.

Dan warga sekitar sana itu sebelumnya tidak tahu kalau disana mau ada yang membangun keraton, tahunya hanya ada orang kaya yang lagi mau bangun rumah. Ternyata…. Ada orang halu…

Yap, mas bro dan mbak sist, itu tadi gambaran terkini keadaan Keraton Agung Sejagat pasca ditinggalkan oleh Raja dan Ratu serta para pengikutnya, karena mereka harus menjalani pemeriksaan polisi. Kini tempat tersebut menjadi destinasi wisata dadakan Purworejo. Bahkan di sana perekonomian juga berputar dengan hadirnya para pedagang makanan serta minuman, tukang parkir, dan persewaan toilet umum.

Terima kasih satuaspal ucapkan kepada Mbak Tri Estiningsih yang sudi membagikan pengalamannya berkunjung ke Keraton Agung Sejagat di desa Pogung, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Wes gamblang kan mas bro dan mbak bro… Kalau sampean masih penasaran, bisa langsung ke TKP. Salammmm…

~ enjoy riding

13 Replies to “Testimoni Warga Purworejo Saat Berkunjung ke Keraton Agung Sejagat”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: